Rabu, 20 Mei 2009

BE A MARKETER!

Philip Kotler, seorang pakar pemasaran modern, dalam suatu kesempatan pernah mengatakan “marketing is everyone’s business!!” atau marketing adalah urusan setiap orang. Menanggapi statement itu, bagi kita yang baru mendengarnya tentu akan menimbulkan pertanyaan: “apakah benar demikian?” atau “bagaimana mungkin kita yang bekerja sebagai pegawai di suatu lembaga bank sentral harus berurusan dengan dunia marketing?” Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, alangkah baiknya kita mengetahui perspektif marketing dalam dunia kerja sehari-hari. SELLER OR MARKETER Dalam dunia usaha, setidaknya kita mengenal dua istilah yang sering dirasakan tidak memiliki arti yang berbeda yaitu selling (menjual) dan marketing (memasarkan) atau menjadi penjual (seller) dan menjadi pemasar (marketer). Akan tetapi, jika ditelaah lebih dalam terdapat perbedaan yang sangat prinsip antara penjual dan pemasar. Penjual adalah seseorang yang berorientasi pada omzet, jumlah barang yang berhasil dijual atau dalam bahasa Inggris didefinisikan sebagai “someone who promotes or exchanges goods or services for money”. Seorang penjual akan berusaha melakukan apa saja agar produk dagangannya laku dan akan merasa puas ketika dia berhasil menjual barang/jasa sebanyak mungkin. Sedangkan pemasar mempunyai orientasi customer loyalty yang akan diperoleh ketika pelanggan merasa puas (customer satisfaction). Seorang pemasar akan melakukan upaya-upaya agar keinginan dan kebutuhan pelanggan selalu dapat terpenuhi sehingga akan merasa puas dan menjadi pelanggan yang setia. Bagi pemasar One disappointed customer is worth ten delighted ones. Singkatnya seorang pemasar akan selalu berusaha mencapai product-market fit (kesesuaian produk dengan pasar). Dalam dunia kerja dan masyarakat, kita juga selalu dihadapkan pada dua pilihan gaya kerja yaitu menjadi seorang pegawai penjual atau pegawai pemasar. Sebagai seorang penjual, kita akan berorientasi pada jumlah produk, apapun yang kita hasilkan yang penting target tercapai! Sedangkan sebagai seorang pemasar, kita akan selalu berusaha mencari tahu bagaimana kepuasan stakeholders kita terhadap produk dan jasa yang kita berikan, apa yang perlu kita lakukan untuk melakukan perbaikan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan stakeholders dan seterusnya. Singkatnya Continuous learning about the market (stakeholders) dan continuous improvement adalah kata kunci menjadi pegawai dengan gaya pemasar. Dari dua gaya tersebut, manakah yang akan kita pilih? Secara logis, organisasi akan selalu menginginkan seorang pegawai yang memiliki jiwa pemasar dan bukan penjual. Yang menjadi pertanyaan kemudian, bagaimana kita bisa belajar menjadi pegawai pemasar? BE A MARKETER! Seorang pemasar akan selalu berpijak pada tiga hal, yaitu segmenting (S), targeting (T) dan positioning (P) atau yang biasa disingkat dengan STP. Implikasi cara berpikir STP dalam dunia kerja adalah sebagai berikut : • Segmenting : melakukan segmentasi, pengelompokan stakeholders baik internal maupun eksternal berdasarkan nature mereka. Dari sisi internal, segmentasi dapat dilakukan antara lain dengan membedakan strata jabatan misal atasan, bawahan dan rekan se-level sedangkan dari sisi eksternal segmentasi dapat dilakukan dengan melakukan pengelompokan seperti Pemda, Akademisi, Wartawan dsb. Setelah melakukan pengelompokan, seorang pemasar akan mempelajari keinginan dan kebutuhan masing-masing segmen stakeholders dan mencoba merencanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk dapat memuaskan stakeholders tersebut. • Targeting : menentukan kelompok-kelompok stakeholders yang akan kita tuju dan mentargetkan pemenuhan kebutuhan dan keinginan mereka seperti yang mereka harapkan. • Positioning : melakukan positioning produk dan jasa yang kita berikan dan melakukan perbaikan-perbaikan sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan keinginan stakeholders. Positioning bisa dilakukan dengan membuat slogan, rangkaian kata yang ingin dicapai misalnya “menjadi penyedia data dan hasil kajian yang terlengkap dan terpercaya di daerah” dsb. Seorang pemasar tidak akan berhenti pada suatu kondisi kepuasan stakeholders tertentu akan tetapi akan selalu belajar baik secara individu maupun dalam suatu tim pemasar (seksi, bidang, satker) untuk meningkatkan kualitas produk dan jasa yang dihasilkan dengan berdasar pada perubahan lingkungan kerja dan perubahan keinginan dan kebutuhan stakeholders dari waktu ke waktu. Sekali lagi continuous learning dan continuous improvement menjadi ciri dari pegawai yang mempunyai jiwa pemasar. Dihubungkan dengan Program Budaya Kerja Bank Indonesia, baik Organisasi Berbasis Pengetahuan (OBP) maupun Program Penyelarasan Kultur (PPK), jelas bahwa jiwa pemasar sebenarnya adalah sasaran dari perubahan yang selama ini dilakukan yaitu menjadikan individu pegawai Bank Indonesia yang mempunyai semangat continuous learning dan continuous emprovement. Jadi benar apa yang dikatakan Philip Kotler, “marketing is everyone’s business”!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar